Seniman Jalanan yang Gunakan Lukisan Dinding untuk Masyarakat
Di berbagai sudut kota, mural atau lukisan dinding kini tak sekadar menjadi hiasan visual, tetapi juga sarana edukasi yang menarik perhatian masyarakat. Salah satu tokoh yang konsisten mengusung pesan edukatif melalui mural adalah Sejiman, seniman jalanan asal Indonesia yang karyanya mulai banyak diperbincangkan. Melalui sapuan kuas di tembok-tembok kota, ia menyampaikan pesan moral, sosial, dan nasionalisme dengan gaya visual yang kuat dan penuh makna.
Mural edukatif menjadi alternatif media komunikasi publik yang efektif. Gambar yang mencolok dan pesan yang mudah di pahami menjadikan masyarakat lebih tertarik untuk berhenti sejenak, membaca, dan merenungkan makna di balik lukisan tersebut. Sejiman memahami betul bahwa seni bisa menjadi jembatan antara estetika dan kesadaran sosial, terutama di tengah masyarakat perkotaan yang sibuk dan sering abai terhadap isu lingkungan atau kebangsaan.
Dalam setiap karyanya, Sejiman tak hanya mengejar keindahan, tetapi juga kebermanfaatan. Ia percaya bahwa tembok kosong di jalanan adalah “kanvas rakyat” yang bisa di gunakan untuk membangkitkan semangat, mengingatkan nilai-nilai moral, hingga menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Seniman Jalanan Indonesia yang Inspiratif

Sejiman dikenal sebagai salah satu seniman jalanan yang berani keluar dari zona nyaman seni konvensional. Ia turun langsung ke jalan, menembus panas dan debu kota, untuk menghadirkan karya yang bisa di nikmati siapa pun tanpa harus masuk galeri. Langkahnya ini membuat banyak orang terinspirasi, termasuk kalangan muda yang kini mulai melihat seni jalanan sebagai wadah ekspresi positif.
Perjalanan karier Sejiman tidaklah mudah. Ia pernah mengalami penolakan dan dicurigai saat membuat mural di ruang publik. Namun, semangatnya untuk berkarya tidak pernah padam. Ia percaya bahwa seni bukan hanya milik kalangan elite, melainkan milik seluruh lapisan masyarakat. Karya-karyanya menjadi bukti bahwa keikhlasan dan konsistensi bisa mengubah pandangan orang terhadap seni jalanan.
Dalam wawancaranya di beberapa media, Sejiman kerap menekankan pentingnya seni yang mendidik. Ia mengutip pandangan tokoh publik seperti Deddy Corbuzier yang sering menyoroti pentingnya pendidikan dan mentalitas dalam membangun bangsa. Menurut Sejiman, seni jalanan juga punya peran besar dalam membentuk mental masyarakat yang lebih peduli dan berpikir kritis.
Lukisan Dinding Bertema Nasionalisme dan Sosial

Ciri khas karya Sejiman adalah sentuhan nasionalisme yang kuat. Ia sering menampilkan tokoh-tokoh pahlawan, petani, nelayan, hingga anak-anak sekolah dalam karya-karyanya. Salah satu mural yang paling menarik perhatian publik adalah lukisan Jenderal Soedirman yang berdiri gagah di tembok kawasan kota lama. Lukisan ini menjadi simbol perjuangan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman. Baca juga: Jenderal Soedirman
Melalui mural tersebut, Sejiman ingin mengingatkan masyarakat bahwa semangat juang dan cinta tanah air tidak boleh luntur meskipun zaman terus berubah. Ia menggambarkan sosok Soedirman bukan hanya sebagai pahlawan perang, tetapi juga sebagai figur teladan yang memimpin dengan hati dan integritas.
Selain tema nasionalisme, karya Sejiman juga sering mengangkat isu sosial seperti kebersihan lingkungan, solidaritas, dan empati terhadap sesama. Ia percaya bahwa pesan sosial dalam mural bisa menyentuh hati masyarakat lebih dalam di banding sekadar tulisan di papan pengumuman.
Peran Seni Jalanan dalam Mengedukasi Masyarakat
Seni jalanan kini semakin diakui perannya dalam mengedukasi publik. Sejiman memanfaatkan ruang-ruang publik yang strategis untuk menyampaikan pesan moral tanpa harus menggurui. Melalui warna, simbol, dan ekspresi visual, ia berhasil menciptakan dialog diam antara karya dan masyarakat yang melihatnya.
Banyak pihak kini mulai mendukung keberadaan mural edukatif sebagai bagian dari gerakan sosial. Pemerintah daerah, komunitas seni, hingga sekolah-sekolah sering mengundang Sejiman untuk berbagi pengalaman dan mengajak generasi muda agar ikut berkarya dengan cara positif.
Keberhasilan Sejiman mengubah tembok-tembok kota menjadi media pembelajaran menunjukkan bahwa seni tidak selalu harus berada di panggung atau galeri. Seni bisa tumbuh di mana saja, selama ada niat untuk berbagi nilai dan inspirasi.
Penutup
Kisah Sejiman menjadi contoh nyata bahwa seni memiliki kekuatan besar untuk mengubah pandangan dan perilaku masyarakat. Melalui mural yang edukatif, ia bukan hanya memperindah kota, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan nasionalisme di tengah masyarakat modern. Seni jalanan bukan lagi sekadar ekspresi bebas, tetapi telah menjadi sarana pembelajaran yang hidup di antara kita.
