Monas: Ikon Kebanggaan Bangsa Indonesia
Monumen Nasional, atau yang lebih populer dengan sebutan Monas, bukan sekadar tugu raksasa di tengah Jakarta. Berdiri tegak setinggi 132 meter, Monas adalah pengingat abadi atas kegigihan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Sejarah Pembangunan Monas
Arsitek di balik kemegahan ini adalah Soedarsono dan Frederich Silaban.
Filosofi Lingga dan Yoni
Bentuk Monas mengambil inspirasi dari kearifan lokal, yaitu konsep Lingga dan Yoni. Tugu yang menjulang tinggi melambangkan Lingga (elemen laki-laki/maskulin), sementara pelataran cawan di bawahnya melambangkan Yoni (elemen perempuan/feminin). Perpaduan ini melambangkan kesuburan dan harmoni.
Emas di Puncak Monas
Salah satu ciri khas yang paling ikonik adalah Lidah Api Kemerdekaan di puncak tugu. Emas ini melambangkan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah padam.
Bagian-Bagian Menarik di Dalam Monas
Museum Sejarah Nasional: Terletak di bagian dasar, museum ini berisi 51 diorama yang menampilkan sejarah Indonesia sejak zaman prasejarah hingga masa Orde Baru.
Ruang Kemerdekaan: Di sini tersimpan simbol-simbol kenegaraan seperti naskah asli Proklamasi, lambang negara Garuda Pancasila, dan peta kepulauan Indonesia yang berlapis emas.
Pelataran Puncak: Anda bisa naik menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 115 meter.
Peran Monas sebagai Ruang Publik
Selain sebagai objek wisata sejarah, kawasan Monas seluas 80 hektar kini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau bagi warga Jakarta.
Rancangan Arsitektur yang Monumental
Monas tidak dibangun secara sembarangan. Rancangan puncaknya yang berbentuk lidah api memiliki tinggi 14 meter dan diameter 6 meter. Lidah api ini terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Yang menarik, berat emas yang melapisi lidah api tersebut awalnya adalah 32 kg, namun pada saat perayaan ulang tahun emas kemerdekaan RI yang ke-50 (tahun 1995), lapisan emasnya ditambah hingga mencapai 50 kg.
Sayembara Desain Nasional
Sebelum bentuknya seperti sekarang, Pemerintah Indonesia mengadakan dua kali sayembara nasional pada tahun 1955 dan 1960 untuk menentukan desain terbaik. Akhirnya, Presiden Soekarno meminta arsitek Soedarsono untuk menyempurnakan desain dari Frederich Silaban dengan memasukkan unsur angka keramat kemerdekaan Indonesia, yaitu 17, 8, dan 45 ke dalam dimensi bangunannya.
Kunjungi juga https://hangatin.my.id/bakso-pentol/
